Gilang Purnama Sandi - Ketika Ayah Tiada

Tim Media Yayasan Al-Ruhamaa' 25 November 2020

Gilang Purnama Sandi - Ketika Ayah Tiada

Bismillahirrahmannirrahim,

Aku adalah Gilang Purnama Sandi, lahir di Bogor, 19 Agustus 1998. Aku adalah anak bungsu dari 2 bersaudara, buah dari pasangan Eko Iswahyudi dan Rina Maryuni. Ayahku berkerja di perusahaan rekanan PT.KAI dan ibuku hanya sebagai ibu rumah tangga. Saat ini aku kuliah di STTPLN Jakarta semester 5

Saat aku berumur 4 tahun, saat itu terjadi kejadian yang sangat memilukan sepanjang hidupku. Kejadian dimana berpindahnya ruh ayahku ke kampung halamannya,  akhirat. Saat itu aku hanya anak ingusan yang belum mengerti apapun. Ayahku meninggal karena penyakit jantung. Demi menyambung hidup keluarga, Ibuku berjualan pakaian dan sprei di rumah. Dan saat aku SD kelas 5 sampai SMP Ibuku berjualan beras di rumah juga, yang dipasok oleh Pamanku. 

Aku masuk di SDN Taman Pagelaran. Di SD aku termasuk korban Bullying oleh teman–temanku. Tindakan tersebut aku dapatkan selama SD. Dari barang –barang ku yang sering dirusak dan disembunyikan, yang paling terparah aku pernah diludahi di wajahku. Awalnya hal tersebut aku pendam didalam hatiku. Sering aku bertanya pada diriku sendiri “Mengapa teman–temanku seperti itu padaku, padahal aku tak pernah mengusik mereka”. Sempat terlintas di  kepalaku untuk berhenti sekolah karena tidak  kuat dengan Bullying yang terjadi kepadaku. Akhirnya karena tidak kuat aku beranikan cerita kepada ibuku. Ia kaget mendengarnya, lalu menasehatiku, “Gilang coba kamu introspeksi diri kamu, apakah ada yang salah pada diri kamu dalam memperlakukan kawan-kawanmu? Coba kamu berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan coba kamu belajar cara menghargai kawan – kawanmu, insyaallah kamu tidak akan mendapatkan perlakuan seperti itu lagi.”. Luar biasa kalimat itu, dan itu aku tanamkan di dalam hatiku hingga sekarang. Dan alhamdulillah semenjak SMP aku sudah tidak pernah di Bully lagi.

Ketika umurku 8 tahun aku masuk di yayasan yatim Ar-Ruhamaa Qatar Charity Bogor. Aku masuk diregional Ciomas dengan Penanggug Jawab Ibu Sri . Beliau orangnya baik dan juga perhatian. Di yayasan ini aku mendapatkan banyak kenalan baru dari seluruh Bogor, Ilmu Agama yang luar biasa, dan alhamdulillah mendapatkan bantuan dana pendidikan. Senang sekali rasanya dapat masuk ke yayasan ini.

Ada suatu metode unik yang dilakukan oleh Ibuku kepadaku dalam menghafal surat yaitu harus menyetor minimal 2 ayat setiap ingin keluar bermain. Memang itu hal yang sulit namun mau bagaimana lagi kalau tidak menghafal aku tidak bisa keluar, tapi aku tetap ikhlas melakukannya. Dan itu menjadi rutinitas dari kelas 3 SD sampai aku SMA. Alhamdulillah sekarang sudah hafal Juz 30 dan  QS:Ar-Rahman, dan insyaallah akan bertambah lagi.

UN SD sudah dekat, mata pelajaran Matematika adalah yang tersulit. Aku mencoba berkonsultasi ke Ibu Sri dan alhamdulillah beliau mau mengajariku mata pelajaran yang  diUNkan. Sekitar 3 minggu aku belajar di rumahnya, Alhamdulillah nilai UN ku sangat memuaskan bisa masuk 10 besar dan nilai matematikaku terbaik di sekolah, hatiku gembira luar biasa.

SMPku di SMPN 11 Bogor. Alhamdulillah kelas 8 dan 9 aku masuk kelas unggulan karena saat kelas 7 aku mendapatkan rangking  3. Senangnya luar biasa masuk kelas unggulan. Memang luar biasa suasana di kelas unggulan, otakku yang minimal ini masuk ke kelas yang menurutku otaknya setara dengan profesor. Tapi hal itu harus menjadi pemicu agar aku bisa melampaui teman sekelasku. Karena aku memiliki prinsip “Yang lain aja bisa masa aku enggak, sama-sama makan nasi kok.”.

Di yayasan ada sebuah program pembinaan yang diadakan seminggu sekali. Saat SMP merupakan titik dimana aku malas-malasnya ikut pembinaan dan lebih memilih main ke warnet. Tapi alhamdulillah dengan nasihat Ibuku dan Bu Sri, akhirnya aku bisa mengurangi intensitas bermain warnet. Aku simpulkan bahwa masa SMP adalah masa dimana seorang anak malas ikut kegiatan yang bersifat rutin walaupun itu bermanfaat, karena anak SMP masih mencari jati dirinya, peran orang terdekat dapat membantu anak tersebut memilih jalan yang benar. Karena banyak kasus yang terjadi demikian.

UN SMP sudah dekat, aku berinisiatif meminta Bu Sri untuk mengajariku Mata pelajaran yang masuk dalam UN. Alhamdulillah beliau bersedia, aku belajar dengannya selama 1 bulan. Alhamdulillah usahaku terbayar, hasil UNku memuaskan dan berhasil masuk 10 besar seSMPku hatiku senang sekali. 

SMAku di SMAN 10 Bogor. Ada kejadain unik saat SMA biasanyakan bila ingin menambah nilai umunya guru-guru memberikan persyaratan berupa ujian ulang, atau semacamnya. Ada satu guru memberi persyaratan yang unik yaitu membaca hafalan QS:An-Naba, teman-temanku banyak yang mundur tapi karena bimbingan ibuku dari kecil alhamdulillah aku jadi hafal Juz 30 jadinya nilaiku bisa bertambah karena aku melantunkannya dengan lancar.

Aku berada dititik terendah dalam hidupku  UN SMAku nilainya hancur. Program yang biasanya aku belajar dengan Ibu Sri tidak aku lakukan.  Disitu aku mulai depresi namun Ibu menasehatiku “Udah jangan dipikirkan terus, kamu bisa memetik pelajaran agar jangan mudah puas, lebih mendekatkan diri lagi kepada Allah, dan terus berusaha agar kamu mendapatkan hasil yang maksimal”.  Kalimat itu benar-benar kuresapi aku jadikan motto hidup “Kemarin dipelajari, Sekarang dihadapi, Besok direncanakan”.

Walaupun nilai UNku hancur, alhamdulillah aku tetap lulus dan masuk di Sekolah Tinggi Teknik PLN  Jakarta jurusan S1 Teknik Elektro. Padahal notabennya dasar dari elektro adalah fisika yang aku sulit menguasainya, namun aku punya prinsip “Selama mau belajar apapun pasti bisa dipahami”. Di kampus tersebut aku masuk UKM Rohis dan saat tingkat 2 aku ditunjuk sebagai Kepala Divisi Dana Usaha dan juga alhamdulillah di kampus nilai-nilaiku cukup baik. Alhamdulillah juga aku tetap mendapat bantuan dana dari yayasan, yang biasanya hanya sampai lulus SMA saja, aku diajukan agar tetap mendapatkan bantuan untuk program Kuliahnya dan alhamdulillah diterima. Sungguh nikmat yang luar biasa yang aku dapatkan, aku bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat, rahmat, dan karunianya.




Penulis, Gilang Purnama Sandi (PJ Bu Sukma) salah satu yatim mahasiswa. Lahir di Bogor pada tanggal 19 Agustus 1998. Dari keluarga Bapak Eko I (alm) dan Ibu Rina Maryuni.


Karangan ini di tulis dalam rangka memperingati milad Yayasan Al-Ruhamaa’ ke-10 yang di laksanakan pada 27 Januari 2019. Penulis kuliah di Sekolah Tinggi Teknik PLN Jakarta, jurusan Teknik Elektro dan Penulis baru saja menyelesaikan tugas akhir kuliah yaitu skripsi.

Admin

Admin Yayasan Al-Ruhamaa'

Pesan Anda akan segera dibalas

Assalamu'alaikum! Ada yang bisa kami bantu hari ini? Silakan tulis pesan Anda di bawah ya.