Lasmi Syahri - Tulisan Ayah
Ku tak perlu seorang pemimpin Indonesia, yaitu presiden. Karena aku hanya kenal nama nya saja. Ku tak perlu seorang pemimpin Bogor,yaitu walikota. Karena aku hanya kenal wajah nya saja. Tapi kusempatkan julukan “PEMIMPIN”, untukmu ayah, sebagai tulang punggung keluarga kecilmu.
Iya, kau Pemimpin, Pemimpin yang baik, tegar, adil, hebat, bijaksana dan luar biasa, namun terkadang kau berbohong, Kau berbohong kuat, namun kulihat dari paras wajahmu yang letih. kau menyembunyikan kelelahanmu demi melihat kami tersenyum.
Ayah, kau tau? Banyak cerita yang ingin kusampaikan, dan bolehkan aku untaikan dalam tulisanku? Inilah ayahku. Dengan semua lelah dan senang, yang kau pancarkan diwajahmu. Aku sebagai anakmu, tau akan pengorbananmu dan ketegaranmu,untuk keluarga kecilmu. Dan kau tau, Ayah? Diluaran sanah terkadang banyak orang yang membicarakanmu. Dan aku tak peduli Karena aku tau 2 hal:
1. kau membesarkan kami ,tanpa merugikan mereka
2. kau mengajarkan kami ,agar bertahan hidup,tanpa campur tangan mereka
Kemana dia sekarang?
13 tahun berlalu, waktu yang sangat lama. tapi aku masih bersamanya. Aku dipeluk, dicium. Setelah ayah pulang dari pasar, aku merasa senang karena ayah bawa makanan untukku. Tapi tidak biasanya, ayah langsung pergi kembali. aku menyeru, ”ayah ayo ajari aku naik sepeda lagi,aku hampir bisa yah” ungkapku. tapi ayah tetap pergi tanpa menoleh. Aku terus menarik tangannya, tapi ayah masih saja tidak menoleh. jarak semakin jauh, Akan ku panggil dengan keras. ”Ayah........................................................”ungkapku. Nafas ku tersedak, setelah aku lihat, aku berada diatas kasur. ternyata aku terbangun dari tidur, aku merasa sedih, karena itu hanya mimpi. aku tersadar bahwa 13 tahun ini, Aku sudah tak bersamanya.kau dan aku sudah berbeda alam. ya.....ini semua sudah takdir karena ayahku sudah tiada,namun doaku menyertaimu. Dan bolehkah aku meminta, ketika aku tidur kembali, aku ingin bertemu ayah. Dan aku meminta kepada Allah ,agar tidak membuka mataku kembali,agar aku selalu bersamanya
Bagaimana dengan sekarang?
Aku berdoa kepada AllahSWT. Agar aku dan keluarga diberikan kekuatan tanpa sesosok ayah. tak ada wajah tegar dan tak ada wajah berkumis. tapi aku masih merasakan bayangan semua itu tertinggal dihatiku, karena kenangan akan terus dalam hati. Apa yang akan dikatakan dunia? namun matahari tetap bersamaku. Kau tau ayah? semenjak kau tak bersama kami .aku lebih teriris melihat ibu harus berjuang menggantikan sesosok ayah ,demi menghidupkan 9 anak.ketika itu,aku berharap bisa membahagiakan ibu,apapun itu?? Ya apapun itu,,aku berfikir dengan memberikan banyak uang, akan membuat ibu bahagia.tapi sejak itu,aku masih masuk smp ,bagaimana akan ku dapatkan uang sebanyak itu?.dengan berjalannnya waktu ,ternayata dengan saya juara ,ibuku sudah bahagia,dari itu,aku semangat untuk mengikuti lomba-lomba:lomba pidato,lomba ouisi,lomba karya tulis.,drama,cerpen dan piala itu semua ,ku pajang diruang tamu ,sebagai bukti kebahagia kecil untuk orangtua.yang kulihat,ibu bahagia sekali,ibu mencium,memeluk, dan memujiku. Bagaimana kau disana, Ayah, apa kau juga bangga terhadapku? Rasanya 1 menit saja ingin rasanya kau hadir menyaksikan kami yang sedang berbahagia,agar kau bisa mencium,memeluk dan memujiku.tapi aku yakin kau disurga sana melihat kebahagia kami dan kau bangga terhadapku.
Kehidupan ini ,tidak selamanya manis
Ayah ? tenanglah kau disana .jika kau sedih disana,kesedihan itu,bukti bahwa kau sayang terdap kami,kami akan mengadu kepada pencipta alam. Tak usah khawatir ,ketika kami menanggung kepahitan dunia. karena Allah tidak menguji hambanya diluar batas kemampuan hambanya.maka itu, aku percaya bahwa keluargaku mampu menghadapinya.aku tegar ketika aku bersama ibu. Tapi bolehkah aku teriak sejenak”,Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”ungkapku untuk melepas kesedihan ini. Ibu, Aku tau perjuanganmu. Kesedihan ini,benar-benar menyakitiku.aku menangis ,ketika ibuku sedang berjuang untuk kami.tapi dunia ini ,seakan tak adil untuk ibuku.jika ayah bersama kami,kau orang pertama yang membela perjuangan ibu.tapi ketika itu,aku.....,aku ayah,yangmelihat ,dan mendengar langsung kehidupan kami. Aku tak suka suara yang tinggi,karena itu,ibu sedang dimarahi. Aku tak suka mata yang melotot, karena itu, ibu sedang dihina. Aku tak suka dengan tangan yang melayang,karena itu,ibu akan ditampar. Ayah disana,,,..? Pasti melihat kami, air mata ini menjadi bukti bahwa kami menerima kepahitan hidup. Ayah disana? Tolong sampaikan hati yang sakit ini kepada Allah SWT.dan akan kusampaikan doa untukmu,agar kau disana tenang dan selalu bersama kami,walau hanya dalam hati dan doa. Untukmu ibu, akan ku untaikan puisi ini untukmu.
IBU
Kau sayang padaku
Aku lebih sayang kepadamu
Kau bangga padaku
Aku lebih bangga padaku
Kau peduli padaku
Aku lebih peduli padamu
Padamu ibu..............
Aku tau,kau tegar
Tapi hatimu sedang menangis
Aku tau ,kau kuat
Tapi batinmu sedang lelah
Aku tau,kau akan tersenyum
Tapi masih ada bekas sedihmu
Aku tau,kau mampu menyelesaikan permasalahan
Tapi kau sedang merasa takut
Tenang ibu,9 anak ini yang akan mengkuatkanmu
Tenang ibu,9 anak ini akan bersamamu
Tenang ibu, 9 anak ini akan membahagiakanmu
Wahai ibuku..........
Maafkan kami anakmu,yang sering mengecawakanmu
Maafkan kami anakmu,yang tidak sesuai dengan yang kau pinta
Maafkan kami anakmu,yang sering membuatmu menangis
Maafkan kami anakmu,yang tidak mematuhi perintahmu
Api membara,tekadku kuat
Ayah yang disana, dan ibu yang disini “jadilah anak yang sukses”ungkap kalian yang luar biasa.hari ini dan selamanmya,aku akan semangat dan ikhtiar untuk menggapai harapan dan cita-citaku. Ayah disana......? Ingin rasanya aku mendoakan mu di hazar aswad di baituallah,harapanku akan ku ajak ibu untuk bersama-sama kesana.aku yakin doa dan ikhtiarku ,dan bantuan dari Allah SWT ,kami bisa datang kesana untuk menyempurnakan ibadah kami dan tentu untuk memberi kebahagia kepada ibuku tercinta.allahhuma Aamin.
Kesabaran berbuah kebahagian
Aku dan keluarga bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada keluarga kecil kami.karena aku tau bersyukur itu ,jauh lebih baik daripada mengeluh.dan aku ikhlas dengan apa yang terjadi dimasa yang lalu.aku yakin ayah disana akan lebih tenang ,melihat kami yang jauh lebih baik dari dulu.
Penulis, Lasmi Syahri (PJ Bu Sukma) salah satu yatim mahasiswa. Lahir di Bogor pada tanggal 9 Mei 1997. Dari keluarga Bapak H Sahri (alm) dan Ibu Hj Sarifah.
Karangan ini di tulis dalam rangka memperingati milad Yayasan Al-Ruhamaa’ ke-10 yang di laksanakan pada 27 Januari 2019. Sekarang penulis kuliah di Maqtab Sholahuddin, jurusan Sistem Informasi, semester 8.