M. Nurhikmah Wiguna - Apabila Aku Besar Nanti
Bismillahirrahmannirrahiim.
Semua orang mempunyai tujuan hidupnya masing-masing dalam scenario kehiduan dunia ini. Dan semua orang berbeda pendapat tentang tujuan yang mereka target dalam menggapai tujuan tersebut. Oleh karenanya dengan perbedaan tersebut turunlah Al-Qur’an yang menyatukan perbedaan, sehingga menyatulah tujuan yang ditarget. Yakni menghadap kepada Allah dengan-Nya Dia meridhoi pertemuan tersebut.
Dengan tujuan yang beraneka Ragam dari pandangan manusia. Maka oleh karena itu. Saya pun berhak untuk mengemukakan pendapat saya perihal tujuan hidup yang akan di capai nanti. atau yang biasa sering disebut dengan Cita-Cita.
Cita-Cita identik dengan bagaimana kita besar nanti akan menjadi seperti apa. Serta kita lah yang menentukan bagaimana keadaan besar kita nanti dengan mempersiapkan bekal yang ada dari sekarang.
Loh… bukannya Allah-lah yang menentukan masa depan manusia serta bagaimana keadaannya nanti? Nah. Pemikiran seperti ini merupakan pemikiran orang yang tidak mau berusaha untuk menggapai kesuksesan dalam menggapai tujuan. Karena pada dasarnya kitalah yang menentukan masa depan nanti dan Allah yang akan menetapkan masa depan tersebut akan menjadi seperti apa.
Maka oleh karenanya kita harus mempunyai tujuan hidup di dunia ini. Walaupun tujuan yang paling utama dalam kehidupan ini ialah Menghadap-Nya dengan Dia meridhoi pertemuan tersebut.
Sebelum menggapai tujuan utama tersebut. Mesti ada-lah tujuan yang mesti dicapai dalam kehidupan dunia ini. Tujuan yang saya ingin gapai dalam kehidupan ini ada beberapa tujuan. Di antaranya:
1. Menteri Agama
Beberapa dan banyak orang yang bingung karena CIta-Cita yang saya miliki. Mengapa demikian? Karena menurut mereka. Tugas Menteri sangatlah berat. Oleh karenanya, banyak yang mempengaruhi saya seperti itu. Tapi hal tersebut tidak membuat saya untuk berkata “Benar juga ya. Yasudahlah.“. Karena menurut pandangan saya. Tugas apapun yang diberikan semuanya terasa berat apabila hanya disimpan dalam pikiran saja dan terlebih lagi tidak dilakukan untuk menyelesaikannya.
Lalu, mengapa pribadi sangat menginginkan untuk menjadi Menteri Agama? Jawabannya ialah. Karena hati yang menginginkannya. Dan melihat pandangan beragam agama yang ada di Indonesia sangatlah banyak. Serta masyarakat yang berada di dalamnya yang selalu saja ada masalah yang berkaitan dengan agama. Oleh karenanya saya ingin menjadi Menteri Agama ialah karena masyarakat yang ada di Indonesia itu sendiri.
Terdengar seperti alasan yang ingin menjadi penengah di antara semuanya bukan? Ya. Memang seperti itulah saya. Yang tidak terlalu fanatik terhadap salah satu pihak apabila ada pertikaian antara kelompok dengan kelompok lain ataupun individu dengan individu yang lainnya.
2. Penghafal Al – Qur’an ( Hafidzul Qur’an )
Siapa yang tidak ingin menjadi Pengahafal Al – Qur’an? Pasti semuanya mau menjadi Penghafal Al – Qur’an, karena dilihat dari segi manfaat yang akan didapatnya ketika menghafal Kitab Suci yang telah diturukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW ini. Begitu banyak manfaat yang didapat ketika kita menghafal Al – Qur’an. Salah satunya ialah akan menaikkan derajat orang tua kita di dunia maupun di akhirat kelak.
Dengan salah satu manfaat yang akan didapat itulah saya termotivasi untuk bercita-cita menjadi Penghafal Al – Qur’an. Walaupun pada hakikatnya ketika kita menghafal Al – Qur’an dengan bertujuan untuk menjadi Hafidz Qur’an itu dapat mengurangi keikhlasan kita ketika menghafal Al – Qur’an. Oleh karenanya InsyaAllah saya ikhlas untuk itu. Dan Alasan yang lainnya ialah saya ingin memberikan hadiah kepada orang tua saya berupa pakaian dan mahkota terbaik di surga, berupa cahaya yang akan diberikan oleh Allah SWT kepada orang tua saya di akhirat kelak. Aamiin.
3. Guru
“Sebaik-baik Manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (H.R. Ahmad)
Kutipan terjemahan hadits di atas-lah yang selalu mendorong saya untuk menjadi pribadi yang bermanfaaat untuk orang lain. Dan yang selalu ada di pikiran saya untuk menjadi pribadi yang bermanfaat ialah menjadi Guru.
Loh. Kan pendapatan Guru itu kecil? Belum untuk mendidik anak yang bandelnya? Belum ngurus ini itu dan sebagainya.
Sudah dijelaskan sebelumnya. Bahwa apabila pekerjaan disimpan dalam pikiran saja. Itu baru merupakan hal yang berat. Terlebih lagi apabila pekerjaannya itu tidak diselesaikan ke dalam bentuk aksi. Maka akan terasa lebih berat. Maka oleh karenanya juga. Tolak ukur cita-cita yang saya target ialah seberapa manfaat diri saya untuk orang lain. Dengannya saya memilih menjadi Guru. Karena saya mempunyai pikiran. Guru-lah yang bisa menjadikan anak didiknya bermanfaat untuk orang lain. Oleh karena itu pula Guru menjadi sumber pencetak orang yang bermanfaat. Serta menjadi manusia yang telah dijelaskan dalam kutipan terjemahan hadits di atas.
Nah itulah beberapa tujuan hidup saya ketika besar nanti akan menjadi seperti apa. Mungkin sebagian besar dalam tujuan hidup saya mengabdi kepada Agama bukan ? Ya. Benar. Karena hal itu merupakan wasiat yang disampaikan dari Almarhum Ayah saya kepada Ibu saya. Agar suatu saat kelak salah satu anaknya agar menjadi pribadi yang mengabdi kepada agama. Maka oleh karena itu. Hal tersebut menjadi salah satu motivasi juga saya untuk menjadi pribadi yang mengabdi kepada Agama. InsyaAllah saya yang akan mewujudkan hal tersebut dengan kekuatan serta pikiran yang saya punya untuk menggapai tujuan yang sudah ditarget dan diharapkan semuanya. Aamiin.
Wallahu’alam.
Penulis, M Nurhikmah Wiguna (PJ Bu Eva) salah satu yatim mahasiswa. Lahir di Bogor pada tanggal 21 Juni 2001. Dari keluarga Bapak S. Syarif Hidayat (alm) dan Ibu Siti Asiah.
Karangan ini di tulis dalam rangka memperingati milad Yayasan Al-Ruhamaa’ ke-10 yang di laksanakan pada 27 Januari 2019. Sekarang penulis kuliah di Universitas Islam Negeri Jakarta, jurusan Akidah dan Filsafat Islam, semester 3.