Muraqabah (Merasa Selalu Diawasi Allah)

Tim Media Yayasan Al-Ruhamaa' 01 Maret 2021

Muraqabah (Merasa Selalu Diawasi Allah)

Umar bin Khahthab ra. berkata, “Ketika kami duduk bersama Rasulullah saw., tiba-tiba seseorang muncul. Dia mengenakan pakaian yang amat putih, rambutnya sangat hitam, dan tidak tampak pada dirinya bekas bepergian. Lalu, dia duduk di hadapan Nabi saw. Dia menyentuhkan dua lututnya dengan dua lutut Nabi, dan meletakkan dua tangannya di atas dua pahanya. Dia berkata, ‘Ya Muhammad, beri tahu aku tentang Islam?’

Rasulullah menjawab, ‘Islam adalah hendaknya engkau bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Kamu melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan melaksanakan haji ke Baitullah jika mampu.’

Dia berkata, ‘Engkau benar.’

Kami heran, karena dia yang bertanya kepada Rasulullah, lalu dia yang membenarkannya.

Rasulullah menjawab, ‘Hendaknya engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kita-kitab suci, para Rasul, hari akhir, dan takdir yang baik dan buruk.’

Dia berkata, ‘Engkau benar.’

Dia berkata, ‘Beri tahu aku tentang ihsan.’

Rasulullah menjawab, ‘Hendaknya kamu beribadah kepada Allah, seolah-olah kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.’

Dia berkata, ‘Beri tahu aku tentang hari Kiamat.’

Rasulullah menjawab, ‘Orang yang ditanya tidak leih mengerti daripada orang yang bertanya.’

Dia berkata, ‘Beri tahu aku tentang tanda-tandanya.’

Rasulullah menjawab, ‘Seorang budak wanita melahirkan tuannya, 29kamu lihat orang-orang yang tidak beralas kaki30 yang menggembala kambing belomba-lomba dalam membangun.’

Kamudian laki-laki itu pergi. Aku terdiam beberapa saat. Setelah itu, Rasulullah bertanya, ‘Hai Umar, tahukah kamu, siapakah orang yang bertanya tadi?’

Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

Rasulullah bersabda, ‘Dia adalah Malaikat Jibril. Dia datang untuk mengajarkan urusan agamamu.’” (h.r. Muslim)

 

Pelajaran-pelajaran Hadist:

1.    Malaikat Jibril memanggil Rasulullah saw. dengan namanya langsung, padahal Allah swt. telah berfirman, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)…” (An-Nur: 63) Hal itu dimaksudkan agar penyamarannya tidak tersingkap. Atau, karena malikat tidak termasuk yang diperintahkan dalam ayat tersebut.

2.    Iman adalah percaya kepada dasar-dasar agama. Islam adalah ketaatan yang terealisasikan dalam kehidupan nyata. Secara definisi, keduanya berbeda, namun saling berkaitan. Tanpa Islam, iman tidak diterima. Begitu juga sebaliknya. Syariat juga sering menggunakan kata Islam yang pengertiannya mencakup iman. Begitu juga sebaliknya.

3.    Bagi yang mampu berbicara, mengucapkan dua kalimat syahadat adalah syarat seseorang masuk Islam.

4.    Dialog antara malaikat Jibril dengan Rasulullah saw. adalah pelajaran penting tentang metode dialog dalam pendidikan.

5.    Malaikat Jibril mengajarkan kepada kita bagaimana bersikap di sebuah majelis ta’lim

6.    Allah swt. tidak memberitahukan kepada satu makhluk pun kapan terjadinya hari Kiamat, namun Dia hanya memberitahkan tanda-tanda kedatangannya. Di antara tanda-tanda itu telah disebutkan dalam hadist ini. Juga disebutkan oleh nash-nash yang lain, seperti turunnya Isa, munculnya Dajjal, dan terbitnya matahari dari arah barat.

7.    Seorang muslim harus senantiasa merasakan bahwa Allah selalu mengawasinya.

8.    Hadist ini menjelaskan bahwa pada suatu saat, satu perkara akan dipegang oleh orang yang tidak mampu melaksanakannya, dan banyak anak yang durhaka kepada orang tuanya. Dua hal ini termasuk tanda-tanda datangnya hari Kiamat.

9.    Seorang muslim harus memelihara dasar dan rukun Islam, serta merasa memiliki tanggung jawab di hadapan Allah agar selalu bersemangat untuk memperbaiki amalnya.


Sumber : Riyadhus Shalihin, Halaman : 100-102

Admin

Admin Yayasan Al-Ruhamaa'

Pesan Anda akan segera dibalas

Assalamu'alaikum! Ada yang bisa kami bantu hari ini? Silakan tulis pesan Anda di bawah ya.