Afnilahawa Annisach - Setelah Ayah Pergi
Tim Media Yayasan Al-Ruhamaa'
25 November 2020
Seketika Lamunan Membawaku Melayang. Melayang Pada masa lalu. Masa dimana terjadi suatu peristiwa yang sangat mustahil untuk dipercaya. Mengapa seketika Aku teringat masa itu? Padahal sudah bertahun-tahun Aku berusaha untuk tidak mengingatnya.
Rindu, kali ini memang benar-benar Aku merindukannya. Merindukan salah satu sosok terbaik dalam hidupku. Pak, sebelas tahun yang lalu Bapak meninggalkanku, meninggalkan Ibu, meninggalkan semuanya.
Sebelas tahun sudah Bapak tidak menemani hari-hariku. Lebih tepatnya, sebelas tahun sudah Aku merindukanmu. Tepat pada malam itu, rindu itu semakin jelas. Rasa ingin memeluk semakin besar, dan pertanyaan “kapan kita bertemu” semakin terngiang di kepalaku.
Berkali-kali Aku berharap agar cepat-cepat bertemu denganmu, Pak. Tapi apalah daya, harapan itu hanya terkabul dalam setiap malam, di alam mimpi.
Jika orang-orang berpikir Aku selalu iri dengan teman-temanku atau orang lain, itu memang benar. Ya, Aku memang iri melihat mereka yang setiap harinya selalu ditemani Ayahnya. Aku memang iri melihat mereka yang setiap harinya mendapatkan kasih sayang seorang Ayah.
Namun, Aku tetap bersyukur. Aku masih mempunyai seorang Ibu yang benar-benar menjagaku dari kecil hingga saat ini, yang tulus menyayangiku, dan sanggup melakukan segala hal demi anak-anaknya.
Setelah Bapak bertahun-tahun pergi meninggalkan dunia ini, Aku tidak merasa lemah. Karna Aku bisa merasakan kasih sayang dari teman, saudara, dan orang-orang terdekatku. Aku kuat, karna Aku tahu, setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Di suatu mimpi, Aku menyendiri di sebuah bukit, benar-benar sendiri, sunyi, sepi dan saat itu ada suatu sosok yang menghampiriku.
Sosok itu berkata;
“Nak, jangan kau sesali tentang kepergian Bapakmu ini, ingatlah selalu namaku, Aku akan terus kembali, kembali dalam mimpimu. Jangan sampai Kau tenggelam dalam harapan yang mustahil. Hapuslah perihmu itu, bersabarlah, dan sampai jumpa di akhir masa”
Seketika itu Aku terbangun, tak sadar air mata telah menetes jatuh ke wajah. Disitu Aku berdoa dan mulai menyadari, bahwa semua yang sudah terjadi adalah takdir dari Yang Maha Kuasa yang akan membuat diriku menjadi lebih kuat.
Disitu Aku merenung, sambil berkata;
“Berbahagialah selalu disana Pak. Doakan agar Ibu selalu kuat menghadapi semua cobaan, agar Aku bisa menjadi orang yang selalu beriman serta membanggakan keluargaku. Dan satu lagi, Aku selalu merindukanmu, Pak”
Penulis, Afnilahawa Annisach (PJ Dr Rika) yatim binaan daerah Bogor Utara. Lahir di Bogor pada tanggal 24 Juli 2004. Dari keluarga Bapak Atjep Sukandar (alm) dan Ibu Lindiana Komara.
Karangan ini di tulis dalam rangka memperingati milad Yayasan Al-Ruhamaa’ ke-10 yang di laksanakan pada 27 Januari 2019. Sekarang penulis bersekolah di SMAN 7 Bogor, kelas 11.